Antara Aku dan Ibu Suamiku

Cerpen Karya Dhaty Irawanti -Member KMO Writer Alineaku Batch 12


Antara Aku dan Ibu suamiku – Jika ada kehidupan yang harmonis antara Ibu mertua dan menantu perempuannya, sepertinya itu bakal menjadi kisah langka. Entah karena sudah telanjur terbentuk imej di tengah masyarakat kita atau memang itu kenyataan yang sulit dipungkiri adanya.Istilah lainnya, sudah menjadi sunatullah atau hukum alam bahwa jika berkumpul ibu mertua dengan menantu perempuan dalam satu rumah pasti akan timbul banyak konflik.

Mungkin hubungan antara Kinanti dengan Ibu mertuanya pun menjadi salah satu di antaranya. Notabene, Kinanti adalah seorang aktifis dakwah.Kegiatannya berkutat pada agenda mengisi Ta’lim dari satu majelis ke majelis lain. Atau terlibat kepanitiaan acara – acara dakwah di masyarakat. Dan ibu mertuanya pun bukan sosok wanita yang terlalu awam dengan nilai – nilai agama.
Hari- harinya dilalui dengan agenda mengaji pekanan, Tahsin Al Qur’an atau bahkan ikut grup belajar bahasa Arab di lingkungan tempat tinggalnya. Tapi semua itu tidaklah menjadi jaminan kenyamanan komunikasi dan interaksi di antara mereka.
Entah sudah berapa kali Kinanti harus kembali menata hatinya saat kesekian kali Ibu meŕtuanya mengingatkan kewajiban Mas Satrio, suaminya sebagai anak laki-laki untuk berkhidmat kepada ibunya. Bahkan bunyi hadist- hadist itu sudah dihafalnya luar kepala.

Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim).

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad).

Ya, Kinanti juga tak hendak membantah apalagi memungkiri kebenaran bunyi hadist itu. Bahwa laki-laki memang milik ibunya, dan selama nya ia milik ibunya.Kinanti ridho dengan hal itu. Dia selalu bisa menyabarkan hatinya saat timbul kecemburuan – kecemburuan Ibu mertuanya hanya karena hal – hal yang sepele saja.Seringkali kecemburuan itu terekspresikan lewat kemarahan yang membabi buta atau hujan kata – kata yang menyakitkan perasaan hatinya.

Dulu di tahun – tahun awal pernikahan nya dengan Mas Satrio, segala rasa yang bergejolak di hatinya karena curahan kemarahan itu, bagaimanapun bentuknya selalu berhasil ditekannya.Danditumpahkannya lewat tangisan saat sudah ada kesempatan bersendiri di kamar atau dalam sujud – sujud sholatnya.Tapi akhir – akhir ini Kinanti merasakan hal itu menjadi ujian yang cukup berat.Setelah 20 tahun pernikahannya dengan Satrio, dia dihadapkan pada kenyataan harus hidup berdampingan lagi dengan ibu mertuanya.
Dulu memang pernah, tapi tak pernah lama. Sementara sekarang, mungkin akan selamanya. Dan benteng pertahanan kesabarannya seolah sudah mulai terkikis. Di usia yang tak muda lagi Kinanti merasa sudah tidak selayaknya dia menerima perlakuan2 yang tidak menyenangkan itu menjadi obyek kemarahan berupa caci maki atau sikap merendahkan. Jiwa pemberontaknya terusik, sehingga akhir -akhir ini seringkali terjadi miskomunikasi antara dia dan Ibu mertuanya. Beruntung, kejadian – kejadian mirip pertengkaran itu tidak pernah sampai berujung terlalu parah.Pikiran bijaknya masih mampu mengajaknya menasihati diri.
Berjuang kembali untuk terus memperbaiki empati.Beban masa lalu yang dialami ibu mertuanya memang cukup berat. Ayah mertuanya berpulang saat Ibu masih berusia 40-an, saat anak- anak sedang butuh-butuhnya pendampingan dan biaya hidup serta biaya pendidikan. Membesarkan kelima putra-putrinya sendiri hanya dengan peninggalan uang pensiun Bapak yang tidak seberapa, menuntut Ibu untuk bekerja keras, hidup prihatin dengan menahan segala keinginan pribadinya.Semua dicurahkan demi mengantarkan anak- anaknya hingga sukses seperti saat ini.Yah, bisa dibilang keluarga Mas Satrio, lima bersaudara sekarang cukup sukses kehidupan kariernya.

Ibarat petani, sekarang lah saatnya Ibu memanen hasil jerih payahnya selama ini. Mungkin itu juga yang menyebabkan beliau begitu sensitif terhadap segala hal terkait materi. Tapi disisi lain, harga dirinya sebagai orang tua begitu dijunjung tinggi sehinģga seringkali menimbulkan sikap kontradiktif yang membingungkan anak – anaknya. Segala keterbatasan yang dialami Ibu di masa lalu, begitu mudah menghadirkan cemburu.Terutama kepada menantu

Yang paling banyak merasakan imbasnya tentulah Kinanti, karena dia lah yang setiap hari mendampingi ibu mertuanya. Satrio jarang di rumah karena kesibukan kerjanya.Tak jarang dia harus tugas keluar kota, bahkan keluar negeri untuk waktu yang cukup lama.Tak sampai hati juga Kinanti menambah beban pikiran suaminya dengan permasalahan- permasalahan sampah yang kerap terjadi di rumah.

Yang terberat bagi Kinanti adalah berusaha menyelami perasaan Ibu mertuanya yang mudah berubah-ubah.Dan tradisi Jawa feodal yang diterapkan di keluarga suaminya begitu mengedepankan ewuh pekewuh( menjaga perasaan) dan basa-basi, sehingga tidak selalu apa yang disampaikan ke orang lain mewakili kenyataan yang sebenarnya terjadi. Sementara latar belakang keluarga Kinanti sendiri sangat demokratis dan terbuka.Apa yang diucapkan, itu lah yang sebenarnya dirasakan.Ah, alangkah sulitnya menduga-duga. Dan suatu ketika Kinanti salah menduga, pernah dia dianggap Ibu mertuanya sebagai orang yang kurang peka.
Apakah seperti itu memang, tabiat orang yang sudah lanjut usia? Pernah, sampai terlintas dalam pikirannya berharap tak usah lah kiranya ia diberikan umur yang terlalu panjang jika saat lansia begitu banyak menyusahkan orang, terutama anak-anak dan keluarganya.Astaghfirullahal ‘adziim.Lintasan pikiran itu segera dipupusnya.
Kinanti kembali merenung dan memutar ulang sekian banyak peristiwa yang telah ia lalui bersama ibu mertuanya.
Bukankah waktu telah memberinya kesempatan untuk belajar, hingga kesalahpahaman itu makin jarang terjadi? Kemampuan menduga dan menentukan sikap terbaik pun makin dikuasainya. Dan yang terpenting, surga memang tidak murah dan mudah, jadi memang harus diperjuangkan.Selalu ada godaan syaitan dan hawa nafsu, terlibat disana.
Kalimat dari suaminya itu selalu terngiang & selalu di-ingatmya saat himpitan-himpitan perasaan begitu menyesakkan dada. La khaula wala quwwata illa billah….Insya Allah, aku bisa!!

“Naskah ini merupakan kiriman dari peserta KMO Alineaku,
isi naskah sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *